Orasi dan Doa Bersama serta Pemutaran Film

•December 9, 2009 • Leave a Comment

Koalisi NGO HAM Aceh akan Memperingati hari HAM sedunia dengan Orasi dan Doa Bersama serta pemutaran Film Karya Deddi Iswanto Ibrahim di halaman kantor DPRA Aceh pada Kamis 10 Desember 2009 pukul 20:00 WIB, menurut Zulfikar Muhammad Panitia pelaksana dari Koalisi NGO HAM, sebelum dimulai acara akan di isi dengan pemutaran sebuah film bertemakan HAM yang baru saja di produksi oleh Koalisi NGO HAM yang disupport oleh lembaga ICCO Belanda dan dipercayakan produksinya kepada Ramphagho Productions (www.ramphagho.com). Acara ini juga akan dihadiri oleh sejumlah aktivis HAM dan sejumlah lembaga lokal maupun Asing.

Aceh N.G.Os Coalition for Human Right will anniversary Human Right Day with Pray Oration and film screening created by Deddi Iswanto Ibrahim will take place at front of DPRA office in Banda Aceh on December 10, 2009 at 8.PM. Zufikar Muhammad as comittee said before event begin they will start with film within Human right Issues first. this film fresh production from Aceh N.G.Os Coalitions for Human Right supported by ICCO. this event also will attends by Human Rihts activist people either elemen in Aceh as well as international representative.

Selamat Idul Fitri 1430 Hijriyah

•September 16, 2009 • 1 Comment

Idul Fitri

Film Rumêh tak Se-Rumêh Dek Yusniar

•September 13, 2009 • Leave a Comment

Tulisan ini telah pula dimuat oleh Harian Aceh pada tanggal 06 September 2009.

Beberapa tanggapan miris dari penikmat dan pelaku media muncul terhadap Film Rumeh. Screening perdananya begitu hambar, dangkal, datar dan tidak menggereget. Alur cerita juga masih mengambang. Terasa sekali pemaksaan beberapa scene dalam sequen-sequennya.

Sulit menangkap pesan damai dari film yang katanya untuk kampanye perdamaian ini. Trauma healing yang diwacanakan-pun berakhir di dataran teoritis dan tanpa solusi.
Alur ceritanya masih dipenuhi oleh banyolan-banyolan konyol yang dimainkan apik oleh Haji Uma, Johni dan Mando Gapi terus diiringin sebuah lagu dangdut yang entah siapa pengarang dan aransernya dari musik tersebut karena yang terdengar beda hanya dinyanyikan dengan syair bahasa Aceh.
Menurut hemat saya ini terlalu Bolliwood-Genre, padahal menurut info dari sumber yang terpercaya film Rumeh ini di garap oleh Sutradara yang berbeda bahkan ada scenarionya.
Apresiasi Saya selaku pribadi Aceh sedikit kesenangan karena minimal di Aceh akhir-akhir ini telah ada peningkatan dalam berseni peran dimana ada perubahan signifikan dari seni peran sandiwara panggung keliling ke seni peran Cinema. Kedua bentuk media ini memiliki karakter sama sekali berbeda, baik dari medium yang digunakan alat dan tehnis produksi sampai kepada cara penyajiannya ke khalayak.
Tehnis Penggarapan
Alur cerita sudah kentara dari awal sehingga hampir tidak ada hal yang mendebarkan dalam flm ini dan pesan sponsor terlalu fulgar tentang damee itu sendiri akhirnya memang sangat hambar dan dangkal. Sebut saja sequen yang menampilkan Yusniar mendapat materi kuliah trauma healing di kampus, kesannya sangat diadakan dan jelas tidak ada tindak lanjut dari sequen tersebut.
Menurut saya alangkah baiknya kalau memang ingin ditampilkan sequence mengenai trauma healing walaupun ini sudah empat tahun paska damai akan lebih baik si Him Morning itu memerankan tokoh korban konflik yang mengalami depresi kejiwaan dimana Yusniar selaku calon sarjana psikologi bisa memberi healing kepada si Him Morning yang mengalami depressi akibat ditinggal mati istrinya yang jadi korban salah sasaran karena terjebak saat baku tembak di saat konflik melanda Aceh. Si Him Morning jadi depressi akibat tak bisa menerima istrinya meninggal seperti itu apalagi istrinya sedang hamil tua saat menjadi korban peluru sasar
Menurut saya peran si Him Morning sebagai orang kena ganguan kejiwaan paska kematian istrinya jauh akan lebih menumbuhkan rasa juga mensuspen alur cerita dari pada sequen di dalam ruangan kelas saja sambil mencercah teori tentang trauma healing.
Kemudian sequence cerita yang memvisualkan damai itu sendiri juga tidak begitu muncul dengan sempurna dalam film Rumeh yang mana katanya menjadi out put dari film ini, pesan damai yang ingin disampaikan justru kalah dengan adegan-adegan konyol Bang Joni dengan Mando.
Kedua adalah Casting serta kostum seperti sequen yang menampilkan Joni dan Mando ambil foto di depan mesjid raya Banda Aceh sebagai keterwakilan dari masyarakat gampoeng yang baru datang ke kota juga tidak di dukung oleh kostumnya Joni karena hampir tak ada beda dengan kostum-kostum yang di pakai oleh para pemuda kota yang menjadi musuh Joni dalam memperebutkan Yusniar.
Ketiga sudut pengambilan dan pergerakan kamera juga tidak bisa mendogkrak adegan-adegan jadi lebih menggereget karena banyak pergerakan dan sudut pengambilan tidak memiliki motivasi, contoh adegan saat bang Joni memberi komentar atas pertanyaan Mando tentang tugu pena sebaiknya ada adegan yang meperlihatkan secara Medium long Shoot di mana Mando dan Joni sedang melihat tugu ujung pena ke arah langit, lalu di cut to Low Angle shoot yang memperlihatkan tugu dari arah bawah ke langit.
Selanjutnya Sound atau audio, ada dialog yang seharusnya bisa di dubbing di studio, misal saat adegan Joni menjelaskan secara blak-blakan kepada Mando tentang maksud tugu pena suaranya dikalahkan oleh atmosfer lalu lintas yang bising, sebaiknya adegan ini di ambil visual saja terus audionya bisa dimasukkan saat editing atau bisa saja di ambil audio sama visual tetapi nantinya saat editing audio bawaan asli bisa dikecilkan sehingga dialog dubbing bang Joni dan Mando Gapi lebih terdengar serta atmosfer asli dari adegan tersebut juga masuk.
Yang terakhir adalah lighting, hemat saya dalam film Rumeh ada beberapa scene berlatar belakang terang lalu subjeknya gelap. Apakah ini disengaja atau memang nihil lighting, kalau jawabannya tidak disengaja kenapa harus berulang dalam beberapa sequen selanjutnya yang seharusnya itu tidak perlu, karena kalau untuk alasan artisitik itu pun kurang bisa diterima karena tidak pada tempatnya misal saat Joni, Mando dan Haji Uma berdialog di bawah rumah panggung lalu ada perubahan scene menampilkan para subjek gelap dan cahaya latar nya overlight. Scene siluet seperti ini tidak mengandung motivasi apapun apalagi dikaitkan dengan alasan artistik jelas susah menghubungkannya tetapi kalau alasannya tidak memiliki dana untuk menyewa lighting ini jelas lebih masuk akal dan pasti akan dimaklumi.
Secara keseluruhan garapan Film Rumeh ini memang tidak memberikan hal yang baru dari beberapa VCD yang pernah saya tonton sebelumnya dari amatan saya malah VCD-VCD Eumpang Breuh sebelum Rumeh  lebih memiliki bobot cerita dan terarah baik dari lelucon, pesan-pesan moral dan ending yang jelas.
Pun demikian Film rumeh ini akan menambah satu katalog baru dalam riwayat film Aceh karena belajar dari ketidaksempurnaan sekarang akan menjadikan kita matang untuk karya selanjutnya dan menerima kritikan serta masukan perbaikan adalah seperti datangnya harta yang tak perlu dicari. Akhirnya saya berharap teruslah berkarya para cinematographer Aceh. Damai untuk semua.

Oleh Deddi Iswanto, penikmat dan pelaku Media Audio Visual tinggal di Banda Aceh

Rumeh, Kearifan (Tidak Lagi) Lokal

•September 6, 2009 • Leave a Comment

Tulisan ini telah dimuat di Harian Aceh pada tanggal 30 Agustus 2009.

TAK ada tujuan yang lebih pertama ketika orang menikmati film kecuali mendapatkan hiburan. Adapun tujuan lain hanya ikutan, yang membuat sebuah film wajar untuk dikenang lebih lama di hati dan pikiran. Namun hal ini tidak saya rasakan ketika menghadiri peluncuran film Empang Breuh edisi Rumeh di Dayan Dawood, 19 Agustus 2009.
Peluncuran film Rumeh ini memang menjadi momentum kebenaran (moment of truth) perdamaian Aceh (MoU Helsinki); sebuah traktat perdamaian yang berhasil bertahan empat tahun. Prestasi yang hebat jika dibandingkan kesepakatan damai Aceh lainnya (pasca-Soeharto) hanya bertahan enam bulan.
Sejak awal saya hadir dengan riang gembira, membawa rekaman di kepala tentang Bang Joni, Haji Umar, dan Bang Mandor yang telah terkenal lucunya. Ditambah “peran sisipan” Dek Yusniar, sebagai ikon kecantikan gadis Aceh yang lugu. Tak dipungkiri, film Empang Breuh menjadi sejarah munculnya film pop lokal Aceh.
Sebagai galibnya film komersial selalu ada mitos “gadis James Bond” yang cantik nan menggoda, dan tak mungkin dipinggirkan dalam film pop mana pun. Dalam kredonya yang paling kuno, seni pop (asal katanya arte populare; pengalaman kesenian masyarakat Inggris abad 18, dari kesenian tari-nyanyi para buruh tambang sehabis bekerja) memang dirancang untuk kepentingan konsumsi masyarakat umum, mengikuti selera pasar, instan dan mudah dicerna.
Sampai di sini tak ada yang salah dengan budaya pop. Kemunculan Mbah Surip dan Trio Macan juga bagian dari dunia pop yang telah lama gersang kreativitas dan inovasi. Orang perlu kebaruan (novelty), tiba-tiba Mbah Surip muncul, demikian dan seterusnya.
Pertunjukan yang seharusnya menyenangkan itu menjadi hambar oleh serial pidato dari pendonor, wakil pemerintah, hingga master of ceremony yang entah berfungsi apa kecuali menyelipkan kata-kata perdamaian yang terkesan majal. Pertunjukan terlihat agak selamat ketika muncul musik akustik Sarjev dan kawan-kawan. Lagu Rumeh yang dinyanyikan Dara, mengalir indah dengan nada soprannya.
Lengkingan yang khas, mengingatkan pada Rafli Kande, representasi suara yang hilang. Lengkingan terluka tapi tabah. Meskipun orang tak mengetahui arti kata katanya, audiens bisa larut dalam lagu pop Aceh ini. Namun tidak di penampilan kedua. Lagu You Rise Me Up Josh Groban, telah menjadikan acara ini seperti layaknya pentas perpisahan kelas.
Sebagai orang yang pernah mendengar versi terbaik dari penyanyi aslinya atau penyanyi Indonesia seperti Michael dan Delon Indonesian Idol, saya tak memiliki ruang untuk menikmati penampilan itu. Saya tak tahu mengapa lagu ini harus dinyanyikan. Mungkin sponsor terlalu berat campur tangan.
Ketika film dimulai, badai visual pun terjadi. Film dimulai dengan adegan stereotype Bang Joni dan Mando ugal-ugalan membawa sepeda motor astuti, menyapa seorang gadis, entah siapa, hanya untuk memperkenalkan kata rumeh (senyum) kepada penonton. Gadis itu hilang tanpa pesan hingga akhir film. Pemaksaan dialog ini menunjukkan bahwa sutradara takut penonton tak paham, sehingga perlu ada “bimbingan gambar”.
Adegan kemudian meloncat ke sekelompok pemuda kampung yang teupeh (tersinggung) oleh sikap Bang Joni dan kemudian berkejar-kejaran dengan sepeda motor, tipikal film Empang Breuh sebelumnya. Adegan meloncat ke konflik Bang Joni dengan preman Medan, diikuti adegan mengejar tukang pompa yang dibayar dengan buah kol. Sama sekali tak ada clue kenapa hal itu dilakukan.
Kekacauan visual bertambah dengan masuknya adegan sekelompok anak muda bermain band dalam film ini yang tidak tahu berfungsi apa. Adegan juga diisi dengan “diktat perdamaian dan turisme” yang disampaikan oleh Haji Umar, diskusi kelas Yusniar, dan obrolan bule di pinggir pantai. Kongruensi antar-scene tidak terjalin dalam sebuah cerita, sehingga seperti babak-babak yang terpisah, terpecah-pecah, tanpa motif jahitan.
Ada beberapa film yang pernah saya tonton memperlihatkan pecahan-pecahan skenario, seperti Pulp Fiction (1994), Kuldesak (1997), atau yang terbaru Berbagi Suami (2006). Akan tetapi film seperti ini dipersiapkan dengan serius untuk festival film, sehingga mesti terlihat tanpa jahitan, penonton menyimpulkan sendiri antar-adegan di akhir film. Untuk film komedi-slapstik seperti ini, tentu saja dekonstruksi adegan tanpa plot adalah terlalu mewah. Ketegangan dan klimaks yang terlihat dalam film Empang Breuh sebelumnya (sebenarnya semua film memiliki konsep pembuka, penokohan, konflik-antar tokoh, klimaks, dan ending) tidak terjadi.
Serta merta penonton mendapati situasi yang sangat artifisial. Ini bukan lagi figur Bang Joni, Haji Umar, Raja, dan Yusniar yang sebenarnya: wakil dari potret masyarakat desa Aceh yang lugu dan apolitis. Tiba-tiba semua tokoh menjadi fasilitator perdamaian. Tiba-tiba sosok Yusniar mendadak pintar, anak kuliahan Banda Aceh yang fasih berdiskusi dalam bahasa Indonesia, tapi masih cinta dengan Bang Joni yang aneh.
Bahkan ada beberapa kekacauan historis sebagai film sekuel. Ada adegan Raja yang memukul Haji Umar, yang sebenarnya orang paling ditakuti di desanya dan calon mertua. Adegan ini merusak konsep kearifan lokal Aceh. Realitas umum anak muda mana di Aceh yang tega mengeroyok orang tua, apalagi untuk alasan yang tidak jelas? Adegan menjadi tidak lucu lagi.
Problem teknis pada film ini seharusnya teratasi jika melihat gambar diwakili tiga kamera untuk satu momen shoot (seperti juga pengakuan Fajran Zain, production manager), berbeda dengan Empang Breuh sebelumnya. Namun permainan short shoot untuk memberikan gambaran muka jelas para tokohnya (close up) dan kualitas gambar yang jernih ini tidak diikuti dengan kemampuan teknis lain, seperti ada angle yang terlalu gelap karena kurang pencahayaan dan gambar terlalu goyang hanya untuk momen statis.
Ini tentu saja menganggu penonton. Belum lagi teknik close up bagi tokoh lawak seperti Bang Joni dan Mando menjadi kurang tepat karena mereka tidak memiliki wajah yang mulus dan tampan ala bintang telenovena.
Konsep pola menjauh (long distance shoot) dari objek agar menangkap sisi Kota Banda Aceh secara utuh menjadi satu-satunya kelebihan teknis film ini. Rekaman itu memberikan suasana kebaikan Banda Aceh sebagai tujuan turisme. Satu momen long distance shoot terbaik yang masih membekas di pikiran saya ada pada film The Terminal (2004, Steven Spielberg), ketika tokoh Viktor Navorski (Tom Hanks) tertegun-gagu oleh nasibnya yang tidak bisa kembali ke negaranya karena diamuk konflik. Sangat fantastis (mengutip kata-kata dalam film Rumeh) dan melodius dengan iringan musik lirisnya.
Sebagai penikmat saya merasakan kehilangan unsur natural Empang Breuh biasanya. Latar belakang yang “terlalu bagus dan rapi”; menyanyi di tepi laut yang indah dan bersih seperti memanipulasi realitas. Dalam film Empang Breuh sebelumnya ada adegan Bang Joni terguling-guling di tepi Bukit Rata, Lhokseumawe, dan menyanyi di atas rakit reot di sebuah rawa yang telah bopeng oleh eksploitasi alam dan rekonstruksi. Tanpa khutbah illegal logging pun, gambar di Empang Breuh tiga dan empat yang saya tonton, memberikan pelajaran betapa alam Aceh semakin terancam.
Realisme gambar yang muncul dalam film itu telah memberikan pelajaran dibandingkan diktat ilmiah, karena seharusnya film tidak menjadi diktat ilmiah. Ia harus mewakili sketsa kehidupan yang memang tidak lurus-lurus saja. Ada parodi, kontradiksi, nyeleneh, dan kelucuan yang pahit. Dan penonton semakin tersenyum oleh kelucuan-kelucuan pahit, dibandingkan kelucuan yang diberi pemanis buatan. Rumeh tidak cukup realistik menangkap fenomena (kelucuan) Aceh.
Tentu kita tak dapat menyalahkan tim kreatifnya. Sebelum pemutaran film telah dikabarkan besar-besar dengan pidato retoris-lebar bahwa Bank Dunia berada dibalik Rumeh ini. Tentu saja yang lahir adalah Empang Breuh rasa Bank Dunia yang puncak rasanya ada di jalan Sudirman, Jakarta, dan terus mengalir ke sumber ideologinya, New York. Mungkin terlalu banyak sisipan yang harus ditelan film ini, mengalahkan kepentingan nilai artistik sinematografisnya.
Maka jangan salah jika ada yang dikorbankan: kearifan lokal Aceh yang ada dalam diri Bang Joni dan Haji Umar yang lugu, lucu, apolitis, tapi konsisten itu. Semoga film ke depan tidak menjadi Bang Joni Kerja di NGO.
Oleh: Teuku Kemal Fasya

Wajibkah Bahasa ACEH di Lingkungan Kantor Pemerintahan?

•August 20, 2009 • Leave a Comment

Tulisan ini hanya sebuah refleksi dari sebuah judul diskusi di milis Aceh Institute yang berjudul PNS di Jogyakarta wajib berbahasa Jawa sebuah kebijakan Gubernur Daerah Istimewa Yogjakarta kepada PNS dilingkungan Kantor pemerintahan, perusahaan, pegawai swasta dan masyarakat umum. Lalu pertanyaan yang muncul perlukah Pemerintah Aceh juga mewajibkan bahasa ACEH dilingkungan PNS? Ada banyak tanggapan sehubungan dengan ide di atas, pertama bagi yang tidak setuju beralasan bahwa Aceh tidak bisa disamakan dengan Jogjakarta, menurut yang tidak setuju yogyakarta adalah daerah yang homogen sementara Aceh lebih heterogen dengan bukti bahwa di Aceh terdiri dari beberapa bahasa (Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Jame, Kluet). Kedua adalah kelompok setuju mereka beranggapan bahwa bahsa endatu yang hidup di Aceh memang bukan hanya menggunakan bahasa ACEH.pengertiannya, ketika ide mewajibkan berbicara bahasa daerah itu berarti bukan harus hanya berbicara bahasa ACEH, tetapi berbicara bahasa lokal, misal di Gayo-silahkan berbicara bahasa gayo, Alas silahkan berbicara dalam bahasa Alas. begitu juga daerah tingkat kabupaten kota lainnya. bagaimana dengan provinsi? ya sesuaikan juga dengan proporsinya. Pengalaman saya kalau di Jogya, sebelum diwajibkan berbahasa Jawa, orang atau masyarakatnya memang sudah tekun berbahasa jawa. Kalau di Aceh orang yang tidak tahu atau pasif berbahasa Indonesia cuma di pelosok gampoeng, sebaliknya di Jawa Tengah khususnya Jogja orang yg tidak bercakap bahasa indonesia hampir semuanya kita temui malah dipusat perkotaan. pertanyaannya apakah mereka tidak bisa berbicara bahasa Indonesia? Jawabannya bisa ya tapi bisa juga bukan, kenapa demikian. Karena menurut pengalaman pribadi saya kebanyakan dari mereka yang tidak berbicara bahasa indonesia adalah si mbok bakul atau kalau di Aceh dipanggil mugee ataupun berjualan di lapak pasar. Tetapi kenyataannya ketika saya menanyakan harga dalam bahasa indonesia dan saya mengulangnya beberapa kali barulah mereka menjawab dalam bahasa indonesia, artinya mereka berbicara bahasa jawa bukan karena mereka tidak bisa bahasa indonesia, lebih tepat karena budaya dan cinta terhadap budaya sendiri dan kebiasaan sehari-hari menggunakan bahasa Jawa. Pengalaman pribadi saya ini bisa dibuktikan oleh siapapun apabila sudah pernah tinggal atau singgah di jogja, sebut saja seperti di pusat pasar Berigharjo atau pasar Keranggan dipastikan bagi anda yang baru pertama sekali di pasar-pasar Jogja akan bodoh sekali di depan si Mbok yang jualan kebutuhan sehari-hari itu, tapi hal ini tidak berlaku untuk jalan Malioboro, di Maioboro penjual kaki lima kebanyakan pendatang dari Padang Sumatera Barat (Sumatera Barek kata haji Uma dalam komedi Eumpang Breuh). Kembali ke pertanyaan perlukah Pemerintahan Irwandi-Nazar juga mewajibkan bahasa daerah dilingkungan pemerintahannya?, jawabnnya menurut saya ok-ok saja sejauh yang diseragamkan itu bukan bahasa ACEH tetapi seragam dalam bahasa lokal masing-masing tiap tingkat dua dikabupaten diwajibkan berbicara dalam bahasa ibu mereka, bukan berarti harus mencontoh Sultan Mataram (Gubernor Jogja) jangan takut di bilang mencontoh hal yg baik dan jangan pula takut di bilang akan terbelakang dengan memperkuat bahasa daerah. Jogja itu mini nya Indonesia ratusan etnis ada di sana, tapi coba saja anda ajak bicara orang Chinese yg berjualan di Jogja berbahsa nenek moyang mereka bahsa Cina, di jamin anda akan tersepona karena mereka pasti akan menjawab dalam bahsa Jawa yg halus sekaliii. iirii saya. Cina di banda Aceh tentu tidak demikian. maksud saya perilaku berbahsa cina bagi orang cina juga karena ketidakberdayaan kita dalam mepertahankan budaya. Jangan pula beralasan Aceh itu kan daerah paling kosmopolit jadi bahsa endatu orang Aceh itu ya bahsa siapa saja (pendatang) no way. sekali lagi Jogja itu bisa jadi contoh, sejak puluhan tahun silam menjadi target tiap pelajar dari seluruh indonesia, tapi bahsa Jawa tetap lestari…eee tanya kenapaaaa. ya jawabannya belajar dari Sultan Mataram, atau sebaliknya Sultan Mataram yang sedang belajar dari Aceh karena krisis identitas di Jogya semakin parah sementara Aceh seperti sedang menemukan kembali identitas nya yang hilang. So kayaknya kita kudu hati-hati juga dengan ide yang sedang bergulir, kritis, bijaksana, berpengetahuan luas sangat penting sebelum membuat keputusan. __,_._,___

Sell Your Video Footage

•August 14, 2009 • Leave a Comment

Hobby and a bit skill about video also can change your life even just small thing and an other inporting thing is that you can promote your place and also  earn money from that video footage. as sample like what I had done in ramphagho.com
I earn a bit money from that footage that I had shot in anywhere and any how other people, industries, media and individual collector will need your footage, so what do you think, are you will follow my way? click link below:
Pond5 Stock Footage

Menulis Teras Berita-Sambungan (by Deddi iswanto)

•May 28, 2009 • Leave a Comment

Berikut ini adalah contoh vignette.

Josh Bartlett pulang dari sekolah pukul 4 sore. Dia mengerjakan beberapa tugas PR sosiologi dan ekonomi. Pada jam 7 malam dia mandi dan makan malam, lalu kembali belajar, kali ini ia mendalami matematika atau kimia.

“Biasanya, dalam keadaan normal,saya bisa belajar hingga tiga jam”, katanya.

Setelah dia menyelesaikan tugas-tugasnya, Bartlett juga harus mempersiapkan diri untuk ujian dan untuk lomba pidato. Jika semuanya lancar, dia bisa selesai jam 10.30 malam, tetapi sering kali dia baru bisa selesai jam 11 dan berangkat tidur jam 11.30 malam.

Bartlett adalah salah satu dari ribuan murid di AS yang terlalu banyak mendapat PR. Pada 1981, murid sekolah mengahabiskan  84 menit seminggu untuk mengerjakan PR. Pada 1997, angka itu naik menjadi 134 menit per minggu. Pada 1997 anak SMP menghabiskan tiga setengah jam untuk PR per minggunya, padahal pada 1981 hanya dua jam.

Update

Herbert Henry Dow High School

Midland, Mic.

Dalam berita di atas, teras vignette empat paragraf akhirnya mengarah ke paragraf berita utama dan fakta. Subjek berita, remaja dan pekerjaan rumah, adalah untuk pers sekolah, merupakan berita yang luas. Meskipun topiknya mempengaruhi setiap murid, bentuk teras vignette langsung membuat berita tampak personal, kisah seseorang adalah kisah semua orang. Apa yang dilakukan reporter Update adalah memberi sketsa deskriptif yang ringkas dilengkapi dengan kutipan langsung, yang menggambarkan seluruh gambaran yang menarik.

Untuk mengakhiri berita tentang pekerjaan rumah ini, penulis membawa kembali pembacanya ke bentuk sketsa cerita:

Sementara itu Bartlett akhirnya siap untuk tidur. Biasanya dia tidur 6 jam di malam hari. Padahal aturannya adalah 8 jam. Tetapi semua telah dikerjakan. Tugasnya telah selesai dan bukunya sudah dirapikan.

“selain tidur dan bersantai,” katanya,”saya mengelola semuanya.”

Contoh lain dari pembukaan vignette adalah berita tentang isu sosial, keluarga dan sarapan pagi.

Setiap pagi Ray Gautschy dari angkatan ’01 sarapan pagi sebelum ke sekolah. Barangkalil hal-hal ini mulai langka bagi banyak remaja sekarang, namun Gautschy tidak hanya sarapan saja. Dia duduk sarapan bersama seluruh keluarganya.

“kami melakukan ini turun-temurun,”kata Gautschy mengenai ritual keluarganya. “kami juga berusaha makan malam bersama setiap hari.”

Keluarga Gautschy memang lain daripada yang lain, sebab dewasa ini sebagian besar remaja mengatakan bahwa mereka tak pernah makan bersama-sama keluarga.

Lion

Lyon Township High School North Campus

laGrange, III.

Berita yang mengingatkan akan hilangnya kebiasaan sarapan pagi bersama keluarga ini disusun berdasarkan komentar dari murid dan pengajar sosiologi yang bertindak sebagai sumber “ahli.”

Amanda William dengan tenang duduk di kursinya di tengah-tengah anak-anaknya yang bermain-main, sambil menggendong anaknya Daniel yang berusia 10 bulan yang tertidur.

“saya tak tahu seperti apa hidupku seandainya aku tak punya dia,” kata Williams.

Dia berada di kegiatan Mommy and Me  yang diadakan setiap Kamis di Rumah Sakit Lakewood. Program ini memberi kesempatan orang tua untuk berbicara dengan orang tua lainnya yang sama-sama punya anak remaja.

Lakewood Times

Sekolah Tinggi Lakewood

Lakewood, Ohio

Entah itu panjang atau pendek, Vignette berguna sebagai alat bagi penulis berita umum, olahraga dan feature, Vignette juga efektif untuk berita di media siaran. Penulis harus selalu mencari orang riil sebagai bahan sketsanya, untuk membantu menyusun presentasi suatau kejadian fakta, figur dan opini selanjutnya. Fabrikasi mengarang Vignette bukan dari sesuatu yang riil adalah tidak etis dan tidak bisa diterima.

Tips untuk menulis teras berita

  1. Tanyakan pada diri Anda sendiri, “apa yang ingin saya beritahukan kepada pembaca?” bisakah Anda menulis jawaban ini dalam satu atau dua kalimat? Cobalah. Ini adalah salah satu cara agar Anda tetap fokus pada tujuan penulisan berita.
  2. Organisasikan cacatan Anda untuk enam jawaban pertanyaan dasar dari pembaca: apa, siapa,di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana?
  3. Putuskan mana dari enam itu yang paling penting.pertimbangkan kembali elemen-elemen berita yang sudah kita pelajari dalam pertemuan ke-2, pilihan anda dinamakan feature fact, fakta yang akan Anda tampilkan pertama kali dalam teras berita Anda. Mungkin ada beberapa fakta yang sama pentingnya di dalam teras berita ini.
  4. Mulailah menulis teras berita Anda dalam bentuk kalimat dan fakta terlebih dahulu. Kemudian tambahkan beberapa fakta lagi, beberapa jawaban lagi untuk melengkapi kalimat. Usahakan kalimatnya ringkas/pendek.
  5. Gunakan kata benda spesifik dan nama lengkap. Gunakan kata kerja yang hidup dan penuh warna. Kata sifat dan kata keterangan bisa memperkuat opini. Hubungan opini itu dengan sumbernya.
  6. Jika teras berita mengandung beberapa fakta yang tidak lazim dan amat penting, sebutkan sumber informasi ini di dalam teras berita Anda.
  7. Kalimat kedua dalam paragrapf  pertama dapat memperkuat atau memperluas fakta yang diberikan dalam paragraf pertama atau dapat menjawab lebih banyak pertanyaan pembaca.
  8. Jika paragrapf teras bersifat tak langsung atau menunda feature fact, tulis paragrapf inti (nut graph) sebagai lanjutan dari teras itu untuk memberi tahu pembaca tentang fakta tersebut.
  9. Jika Anda menulis teras dalam kalimat S-KKO (subjek-kata kerja objek) dan menganggapnya efektif, maka kembangkan paragraph selanjutnya untuk menjelaskan seluruh berita, jika Anda menganggap teras yang Anda tulis tidak menarik banyak pembaca ke barita Anda, cobalah variasikan teras  berita Anda.
  10. Review teras berita Anda sekali lagi setelah selesai Anda tulis. Jika Anda mengawali dengan sudut pandang kapan (“Tahun ini…”atau“ pada 23  Februari…”), maka Anda perlu mempertimbangkannya kembali.biasanya fakta kapan, meski sering penting, bukan cara yang menarik untuk memulai berita. Barangkali fakta siapa, apa atau mengapa lebih menarik?

Perbarui teras berita Anda dengan memasukkan perkembangan terbaru jika berita Anda ditulis untuk majalah mingguan atau dwi mingguan sebelum ia terbit. Usahakan berita Anda sebaru mungkin.

dari Contreng-Rekap Hasil di DPR Aceh

•April 24, 2009 • 3 Comments
Pleno Hasil

Pleno Hasil

di depan kotak suara

di depan kotak suara

temanin-antri-contreng1

Nemanin Antri Contreng
hari-contreng_1
Antri Contreng

Konvoi PA

•April 15, 2009 • 6 Comments

Photo Saat Kampanye PA di Lhong Raya ( lokasi Potret di Nesu, menuju Lhong Raya.010409)konvoi PA