Wet Doi Doi
Wet Doi Doi
(karya itu menunjukkan budaya)

Wot Doi Doi
Menjelang hari raya apakah Idul Fitri maupun Idul Adha di Aceh terutama di pedalaman dan pelosok kampong masih banyak kita temui kaum ibu yang membuat kue tradisional guna menyambut lebaran, ada banyak jenis kue tradisional di Aceh, doi doi adalah satu dari banyak jenis kue lannya, sebut saja timphan, bajeik atau wajeik, meuseukat, keukarah, Nyap, halua, dll. Dan ada satu yang menarik dari jenis kue ini, umurnya yang lama tanpa memakai bahan pengawet.
Konon dulu saat Aceh dalam kondisi perang belanda dimana para pejuang harus bergerilya dan berbulan-bulan tanpa pulang ke rumah, para ibu-ibu Aceh terilhami untuk membuat jenis kue yang dapat bertahan lama sehingga bisa menjadi bekal oleh suami atau kerabatnya yang ikut berperang bergerilya melawan belanda.
Sebenarnya bahan dan cara pembuatan kue-kue tradisional ini tidak lah begitu banyak dan rumit, sebut saja bahan doi doi; Cuma tepung beras ketan, Santan, gula pasir atau gula aren atau gula kelapa di campur secara bersamaan dan masak dia selama 5 jam minimal, setelah itu diamkan beberapa saat sebelum dingin dan hidangkan, (tips api kompor jangan terlalu besar saat memasak). Berikut adalah photo yang berhasil kami potret di pedalaman Aceh Utara tepatnya di desa Ulee Nyeue Kecamatan Nisam (dulu) sekarang Kecamatan Banda Baru kabupaten Aceh Utara.

Seorang Ibu sedang membuat doi doi
Sekarang saya jadi ingat perkataan saya sendiri “karya itu menunjukkan budaya”




pu lom menyoe na intat linto atawa dara baroe, na pu teuh bak geu wot…