PoetryPage
SAKSI MATI
(DOM Aceh)
Lihat lah bagaimana kumpulan tulang- belulang kami dinistakan
Sebagi jasad pebuktian
Tidakkah lubang peluru di tengkorak kami
cukup bukti akibat dor- ran Si Pai
Sepuluh tahun tidak cukup bagi tanah keabadian
memusnakan bukti- bukti bagi tulang- tulang kami yang di patah paksa
Kulit dan daging kami memang telah menjadi tanah,
tapi bukan alasan pelarian tanggung jawab kebiadaban.
English Version :
The Dead Witness
(Territorial Military Operation : DOM Aceh)
Look how a bunch of our bones has been insulted
as the authentication body
Is the holes of bullet on our skull
not sufficient enough to prove the Pai’s* shots
Ten years are not enough for the land of eternity
Annihilate the proofs of our bones which are broken down forcefully
Our skin and flesh has indeed become soils
But that is not the reason for escaping from the responsibilities of impertinence
* Pai’s : Mention names for Military where have been tasking in Aceh as long as Aceh during Conflict between 1988 until August 15, 2005.
Yogyakarta 6 Desembar 1999
Yogyakarta, December 6th 1999
dEDY iBRAJOEM mOESA
TAK ADA SATU PUN
Dan musik pun tak lagi merdu disaat regean hujan belum juga reda
Dan alunan syair- syair lagu pun tak lagi indah di telinga sang bumi
Ketika sang jagat mulai angkuh dengan keperkasaannya
Tergeletak layu mawar di hati
Laksana rembulan tergilas surya
Bekukan niat ‘ntuk ber-sua
Ribuan juta bintang menjuntai tangan berhasrat menari dimalam jula
Menikmati fenomena angkasa dan mabuk bersama anggur jagat bermesra
bersama gulita
Berdansa dalam panggung awan dan disinari lampu bintang
Dari arah pintu angin utara ia menjelma
Sesosok mawar jingga tertusuk duri rana duka
Terbawa harum hembusan angin
Melanglang layang tak tentu arah
Semburat kata menyesal terngiang kembali
Adalah sisa sebuah jelmaan kata.
Tanpa ada yang bisa mengubahnya kembali
Dan jika ada yang berkata hari ini bumi dalam bahagia maka akulah alam dalam
keadaan luka.
Yogyakarta 10 Desember 1995
dEDY iBRAJOEM mOESA
English Version:
There is Nothing
And music is no longer beautiful when the sound of rain not yet ends
And the series of lyrics do not sound beautifully through the earth’s ear
When the world becomes pround of its power
The rose lies down and wilts in the heart
Like the moon ground down by the sun
Freezing the wish to meet
Thousands million of star dangles hands arouse to dance in the night dangling
Enjoy the space phenomenon and got drunk with wines all over the world to intimate
with darkness
From the door of the North He assumes a form
A piece of bright orange rose bitten by a sorrowful thorn
Brought by the fragrance of the wind
Roaming without any destination
A disperse of regretful words heard again
is as residues of the converted word
Without anything can change it back
And if someone says today the earth is in happiness then it is me who is I am the nature
in the injured condition
Yogyakarta, Desember 10th 1995
ILLUSI KEBAHAGIAN YANG TANDAS
Kau hadirkan keindahan
Kau wujudkan kebahagian
Serasa kebahagian itu abadi
Kau buai aku bersama kelembutan
Kau sandarkan aku kenyamanan
Hanya kau-lah saat itu dewa dan aku laksana dewi
Terabaikan oleh kita suatu pertalian suci
Pelaminan-pun kini menjadi mimpi
Karena esok kenyataan menghampiri
Dan aku masih mesti sendiri
Lalu apa yang terjadi
Ketika aku harus mengucapkan
‘Selamat Tinggal’ Aku lari……
Jakarta 16 Mei 1997
English Version:
A Demolished Happiness Illusion
You presented a beauty
You made the happiness real
As if it was truly eternal
You swang me with softness
That time, you were just a god and I am a goddess
Being disregarded by us the holy relation
And the wedding became a dream
For the fact came the day after
And still I had to keep myself alone
So what happened
When I had to say
‘Good bye’ I ran away……….
Jakarta May 16th 1997
GUMAM
Si Merah senja kuharap datang
Menjemput indah nya malam
Namun kegelapan yang kau bawa
Tak mampu bias sinar rembulan dan kerlip bintang
Mereka tenggelam bersama kelelahan mu
Ia kehilangan cahaya bersama keburaman mu
Kapan lagi kau datang dalam sebenarnya datang
Datang yang mampu biaskan sinar rembulan
Yogyakarta 1998
dEDY iBRAJOEM mOESA
(Dalam kumpulan Puisi Dedy Ibrajoem Moesa ‘Course of a Star’)
English Version:
A Murmuring
The red twilight will come,
I hope to pick up the beuty of night
But the darkness you bring
Unable to bias the moonlight and the blink of stars
They sink along with your fatigue
He lost the light as your vague occurs
When will you come again in real arrival
The arrival which can bias the moonlight
Yogyakarta 1998
dEDY iBRAJOEM mOESA
Surat Kepada Chirstina Schmalhofer
Kepada yang selalu membuat ku berharap bertemu,…
Kepada yang membuat ku selalu menunggu,
walaupun yang kutunggu adalah Nisbi,
Namun aku tetap menunggu dalam kegelisahan Waktu- waktu.
Ku coba selalu bersabar sampai batas waktu kemampuan yang kumiliki,…..
Datang lah,… khabari aku tentang satu kissah mu di hari ini,
Untuk menjawab segala gelisah ku pada mu.
Betapa aku telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk selalu mengingat mu.
Aku tidak berharap kamu datang untuk memberikan aku sebuah appresiasi,
Karena aku sedang tidak berkarya pada mu,
Ini hanya ekspresi jiwa yang tersembunyi di bilik-bilik Nurani ku,…..
berpikir tenteng mu adalah luka dan bahagia di sisi yang beda.
Tina mein liebling…..
Tidak kah segala sesuatu itu terlalu cepat berlalu, namun bukakankah memory itu abadi?!
Dari penantian ku, aku mengetuk kesadaran Mu.
Sostro , Yogyakarta 22 September 2002
dEDY iBRAJOEM mOESA
English Version:
A Letter for Christina Schmalhofer
For her who always makes me in hope to meet
For her who always makes me wait
Though whom I wait for is Nisbi *
But I will keep waiting in desperate times
Trying to always be in patience till the limit I can wait
Please come ……. tell me your today story
To answer all my restlessness toward you
How I have spent times just to remember you
I do not hope you will come to give me an appreciation
Cause I am not making anything for you
It is just an expression of my soul hidden down in the rooms of my inner self
Thinking of you is the pain and happiness from the other side
Tina mein liebling……
Isn’t it everything too fast to fade away, but isn’t the memory eternal ?!
From my waiting, I keep knocking for you awareness
Sosro, Yogyakarta September 22nd 2002
dEDY iBRAJOEM mOESA
* Nisbi : relative
DEWA KURSI
(Kekuasaan Yang Timpang)
Banyak orang memperebutkan Kursi.
Begitu pentingnya Kursi.
Hingga orang beranian mematikan sejumlah orang demi Kursi.
Kursi, bagi kami kamu terlalu mengerikan
Melihat sepak terjang mu,
tidaklah pantas bagi mu menjadi symbol kekuasaan.
Bila kami kau cerai berai. Karena dipastikan kamu akan pincang,
Maka jadilah kamu Kekuasaan yang pincang.
Haaaah!!!
Yogjakarta Awal 2000
dEDY iBRAJOEM mOESA
English Version:
(the Unstable Power)
Many people fight for a chair.
How important the chair is,
So that people dare to kill others just for the chair.
Chair, you are very horrible for us
Looking at your attitudes
You do not deserve to be the symbol of power
If we are in pieces, because it is sure that you will be unstable
So that you be the unstable power
Haaaaah!!!!!!
Yogya the early of 2002
dEDY iBRAJOEM mOESA
KEMERDEKAAN ABADI
Kepada saudara-saudara ku di ujung pulau penantian
Keniscayaan itu semakin tampak nyata
Ketika keraguan mencapai titik kehancuran
Mengalir bersama darah-darah suci keberanian
Ketika harta benda tak bisa lagi memberi ketenangan
Pangkat dan jabatan sudah tak memiliki makna
Lalu apalagi yang hendak kita banggakan
diantara puing-puing bangunan kehancuran dan keretakan pilar-pilar menara kedamain
Tidakkah hijrah dari segala kezaliman, pengkhianatan, kepura-puraan,
pembodohan, penghilangan paksa,
akan lebih baik dari pada terus bertahan berkubangan dengan Lumpur-Lumpur kekufuran
Saudara-saudara ku di Ujung pulau penantian, bersabarlah dan terus bertawakkal.
Tangan-tangan tuhan akan segera merengkuhmu sekalian dalam kapal-kapal keselamatan,
memayungimu dengan rindang pepohonan peneduhan,
membawa mu jauh dari malapetaka keduniawian. Yakni kematian.
Karena hanya kematian –lah wujud sebuah pelepasan segala penjajahan,
perampasan, pengkhianatan, penzaliman.
Semuanya lepas
Bebas
Itu lah kebebasan, kemerdekaan yang abadi.
Yogyakarta 6 Desember 1999
dEDY iBRAJOEM mOESA
English Version:
To my brothers in the edge of waiting island
The certainty seems to be more real
When the doubt reaches the point of destruction
Flowing with the holy bravery bloods
When the wealth cannot give peace any longer
Rank and position mean nothing
So what we will be proud of among the ruins of broken buildings and
The crack of peace tower pillars
Isn’t the movement from all evil, betrayal. Hypocrites, fooling,
Forceful elimination, better than to keep in the swamp of stupid mud
My brothers in the edge of waiting island, hold on and pray, the arms of God will hold you all
In the saviour ships, protect you with the leafy shading trees, bring you far from the earthly disaster, that is the DEATH
Because only the death is the realization of a release from being colonized, robbed, betrayed and despised.
Everything has been released
Free
That is freedom, an eternal freedom.
Yogyakarta December 6th 1999
dEDY iBRAJOEM mOESA




Leave a Reply