Jakarta in Memorial

MALAM KE-2 DI JAKARTA PADA BULAN FEBRUARI’06 AKHIR

Malam yang tak bergerak,…DIAM ?!

Tanpa Angin Meniup,…Tenang.

Tanpa Udara,…hampa rasa.

Sangat Diam, Tenang dan Hampa… hingga tak terhingga

English Version:

Scond Night in Jakarta at ending February 2006

Night without move on…SILENT?!

Without any wind blow…quiet.

Without any air…empty feeling.

Very silence, quiet and empty…forever an ever.

Jakarta Selatan

February 28, 2006

dEDY iBRAJOEM mOESA

MALAM KE 3 DI JAKARTA

PADA BULAN FEBRUARY AKHIR 06

Malam bergerak lamban,…pelan

Tanpa angin meniup,…hujan

Datang rintik pada daun yang diam,…matikah? Daun!

Atau halilintar gemuruh…kilat ?!

Mengkelebat cahayakan jagat

Beritakan akan hujan …

Hujan yang tak berhenti oleh hentakan guntur,

Tak peduli pada gertakan gemuruhnya halilintar

Karena peduli pada bumi yang

Sekarat ???!!!

English version:

The 3nd Night in Jakarta at ending February`2006

The night move on very languid,…Slow

Without any wind blow,..rain

Small spot came by the leaf who quiet,… was it dead? Leaf!

Or thunderbolt thundering…flash?!

be visible for only a second to glow univers

sending news is going to rain…

the rain who will not stop by thunder stab,

didn’t care by stab thundering of thunderbolt

Because only care to earth who agony???!!!

Jakarta Selatan Maret 1 2006

dEDY iBRAJOEM mOESA

JAKARTA IN MEMORIAL I

Dunia di mata ku kembali menjadi sedih

Jantungku serasa berdegup kencang

Jari- jari tangan ku bak kesemutan

Saat kemarahan hampir tak bisa ku taklukkan

Mengapa masih ada saja manusia merasa besar

Dan orang lain hanyalah budak- budak belian

Yang tak perlu di hargai dan di hormati

Malam ini aku harus menjadi budak kemarahan dari pelampiasan

Tak apa jika itu dapat menyembuhkan luka di hati mu, kawan !?

Dan jika malam ini aku harus menjadi bulan- bulanan

Itu juga sebelum seberapa bila dapat menjadi penawar keracunan pada strata kehidupan

Tapi mengapa jantung mu semakin Tak beraturan

Dan paru- paru mu semakin lembam bak kepanasan

saat tujuan mu kian tercapai, dan selalu tak terpuaskan.

English Version:

Jakarta in Memorial I

The world before my eyes grieves again

My heart taps fast

My finger is likely numbing

When my anger is almost impossible to be subdued

Why are still there lots of people who feel big

And others are just regarded as bondslaves

Who is unneccesary to get appreciation and respects

Tonight I must become the anger slave of releasing

Never mind, as far it can heal the wounds in your heart, my friends !?

And if tonight, I have to be the victim

It won’t be enough if it is to neutralize the poison of the life strata

But why is my heart more irregular

And your lungs are sweaty as if it is heated when your destination starts all the more reachable and will never be satisfied

Jakarta, January 16th 1998

dEDY iBRAJOEM mOESA

JAKARTA IN MEMORIAL II

Tidakkah kita telah melihat

lorong-lorong kecil kumuh dan padat di ibu kota negeri

Tidakkah kita saksikan

kesejahteraan telah menjadi mahal di balut kebohongan dan keserakahan

Sampai kapankah kita harus tetap memutakan mata,

menutup hidung, menyumbat telinga.

Berapa banyakkah kita telah berkorban,

sampai di ujung manakah kita telah berjalan

Berapa banyak orang yang mampu berjalan,

atau kah juga sebuah jalan sudah terlalu mahal untuk di lalui

Namun apakah itu alasan untuk kita terlelap!!?

Jakarta 15 Oktober 1997

English Version:

Jakarta in Memorial II

Haven ‘t we seen the small, dirty, and dense alley in the capital city of the country

Don’t you see the welfare has become expensive covered by lies and greediness

How long must we blind the eyes and close the nose

Cover the ears. How many of us have sacrificed, in what edge will we walk

How many people can walk, or has a road become too expensive to pass through

But, is this our reason to keep sleeping !!?

Jakarta October 15th 1997

dEDY iBRAJOEM mOESA

JAKARTA IN MEMORIAL III

02.37 WIB

Adakah Orang lain juga bertanya

Mengapa kesusahan tidak berupa ketika kita berasa bahagia

Lapar dahaga membelit masa hingga tak berasa.

Lalu di mana makna harta bagi si Fakir di saat mereka marasa bahagia

Dan harta bagi si Kaya di saat mereka tak bahagia.

‘Karena ketenangan, kebahagiaan adalah pemberian tuhan, bukan manusia ‘

Jangan kau menghiba pada manusia, karena mereka memang tak memiliki apa- apa

Kembalilah kamu selagi bisa, kenali dirimu, wujud mu. Hanya itu.

Jakarta 12 Januari 1997

English Version:

Jakarta in Memorial III

Do any other people also ask

Why the sadness always be invisible when we feel happiness

A hunger and thirst ties the time until they are tasteless

So where is the meaning of treassure for the poor when they feel happy

And the wealth of the rich when they do not feel happy

Because of the silence, the happiness in the God’s gift, not a man’s gift

Don’t you make any compassion to mankind because they have nothing

Please come back while you can, know yourself, you shape, that’s all

Jakarta, January 12th 1997

dEDY iBRAJOEM mOESA


One Response to “Jakarta in Memorial”

  1. mantap

Leave a Reply